Saturday, 12 December 2015

PEMBENAHAN SYSTEM EKONOMI SOSIAL PENDIDIKAN DAN BUDAYA Langkah Pembangunan Negeri Berbudaya (Essai)

PEMBENAHAN SYSTEM EKONOMI SOSIAL PENDIDIKAN DAN BUDAYA
Langkah Pembangunan Negeri Berbudaya

Semua  system ekonomi sosial pendidikan dan budaya pariwisata  tersebut adalah tolak ukur sebuah pembangun peradaban budaya yang sangat vital. Maka dari itu perlu pembenahan sedikit demi sedikit satu persatu untuk langkah menuju pembangunan.


















11/30/2015

WAHYU FEBRIANTO

 





















PENDAHULUAN

Dimulai dari “masalah sistem sosial dimana harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada  atau sebagai kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang seharusnya” dikutip dari Wikipedia Indonesia. Di Negara  ini masih seperti itu masih terjadi banyak masalah kerusuhan, narkoba, KKN mendominasi dan sebagainya.
Begitu pula pendidikan di Negera ini yang masih jauh dari harapan karena berbagai masalah pemerataan kesejahteraan sekolah, kesejahteraan guru, guru tidak professional dan loyal dalam mengabdi, kenakalan remaja, siswa yang tidak menghargai guru, dan pendanaan pendidikan yang sangat pelit pada akhirnya menimbulkan berbagai masalah besar yang timbul di dunia pendidikan.
Dan juga permasalahan-permasalahan ekonomi, budaya yang harus diperbaiki ditata dengan baik guna untuk program pembangunan Negeri ini yang berbudaya.











ISI

Sosial
Masalah sosial yang mendarah daging
Cukup menyedihkan memang masih aktifnya individualisme di Negara ini, mencoba meraih segala hal demi kepentingan pribadi. Para pemimpin yang seharusnya menjadi tiang sandaran rakyat yang haus akan sebuah keadilan justru terseret kedalam lembah kasus politik yang tidak bermoral. Disini yang sangat rugi ialah rakyat yang harus menanggung akibatnya. Lantas bagaimana cara memotong mata rantai perbuatan yang tidak ber-etika tersebut? apakah dengan sebuah pendidikan cukup? Saya rasa tidak. Pendidikan hanyalah sebagai pengubah cara berfikir tiap kepala.
Dengan di aplikasikan system pemerintahan yang transparan mungkin jauh lebih efektif, keterbukaan pemerintah terhadap kebutuhan rakyatnya, missal  data anggaran dan realisasi yang transparan dipublikasikan terhadap rakyat supaya tidak menimbulkan saling kecurigaan. Misal kasus yang masih hangat baru ini pesrsidangan MKD dengan keterbukaan yang mungkin tidak menimbulkan kecurigaan, jika semua keperluan di publikasikan dan dimusyawarahkan secara terbuka kecuali rahasia Negara saya rasa cukup efektif untuk menghindari kecurigaan dan perbuatan KKN. Di Negara kita yang menggunakan system voting terhadap pemilihan politik, di kasus ini juga menjadi akibat dari masalah-masalah perilaku oknum pemerintahan. Banyaknya perbuatan suap demi mendapat hak suara tertingi apapun dilakukan missal menyebar uang tip kepada rakyat calon pemilih, hal tersebut sudah mendarah daging padahal perbuatan yang tidak ber-etika. Bukankah sebaiknya digunakan untuk kepenting pembangunan fasilitas rakyat dari pada untuk menyuap. Dari sini pemimpin terpilih berhubung masih berfikir untung rugi bukanya pengabdian akan mencari pemulihan dana dari hal tersebut dengan cara apapun tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi. Harusnnya paham betul sebagian besar masyarakat mesih belum peka dengan hal tersebut intinya mereka mendapatkan uang sesaat tidak memikirkan kedepanya.
Kaum kapitalis yang mudah sekali mempermainkan hukum demi kepentingan pribadi cukup disayangkan hal tersebut merusak citra landasan hukum Indonesia yang terhormat. Di sini juga pihak yang bersangkutan hanya karena uang, keadilan,  UU, dan peraturan mampu di ubah. Apakah mereka tidak sadar rakyat luas memperhatikan hal tersebut, atau menganggap rakyat tidak memiliki kekuatan untuk menuntut hal tersebut sungguh memprihatinkan.  Jika terjadi semacam ini akan sulit untuk membangun Negara kita yang berbudaya. Cukup sulit untuk menata karakter dari pada insfrstruktur megah.
Lagi Tibor R. Machan dari bukunya Kebebasan dan Kebudayaan menyatakan : “jika harus percaya terhadap semacam partai, memberikan hak suara adalah tanggung jawab politik kita yang suci dan satu-satunya. Memberikan suara adalah awal dan akhir dari kodrat kita sebagai mahluk politik. Namun sebagian besar rakyat tidak mampu menangani masalah-masalah politik, bahkan sekalipun mereka menginginkannya. Berbeda dengan pedagang sayur, dokter, mortar, guru tari, dan kaum professional lainya, yang kita bayar supaya bekerja dengan baik kepada kita. Para politisi kita tidak punya pekerjaan yang jelas. Mereka dituntut  untuk menguasai ribuan persoalan tetapi sebetulnya tidak memiliki keahlian dalam bidang apapun”. Lantas pemikiran apa yang ada di benak politisi saat mereka mengajukan diri menjadi pemimpin? Kita pun tidak memahaminya, janji-janji yang mereka berikan misalkan pembangunan, perekonomian akan maju, pendidikan akan dikepentingkan, insfrakstruktur, kesehatan dan lain-lain. Apakah mereka paham dengan hal semua itu ? saya rasa tidak. Semua akan dilimpahkan terhadap dewan-dewan kaki tangan sang presiden, padahal mereka sudah bermasalah yang berkesinambungan dari sebelumnya. Apakah pemimpin hanya sebagai boneka politik? Sebagian besar dari mereka adalah konglomerat dari hasil warisan yang tidak mengerti apapun tentang kepemimpinan. Ada kaki tangan yang membantunya dan tidak semua dari meraka mengabdi penuh.


Pendidikan
Memahami pendidikan di kota ini
Bukankah pendidikan adalah barometer peradaban pembangunan suatu bangsa yang berbudaya, karena itu pendidikan nomer satu yang harus di fokuskan. Pendanaan pendidikan suda mulai berkucuran namun kenapa masih tinggi angka putus sekolah di Negara ini. Mereka memilih indahnya dunia luar yang hingar bingar terjun ke hal negative ke jalanan, disini bukan salah pemerintah , butuh perlakuan khusus untuk dapat memecahkan masalah ini. Banyak berbagai kasus anak didik yang bermasalah , mereka yang hiperaktif lalu suka mencari perhatian di jalan yang salah, mencari keributan, berani menentang guru, tidak menghargai dan mneghormati guru. Lebih lagi sekarang ada peraturan UU perlindungan anak yang melindungi anak didik dari sebuah kekerasan,. Namun hal ini justru disalah gunakan oleh anak didik yang nakal. Mereka berbuat semena-mena di kelas, acuhkan guru, berani, karena guru tidak mampu untuk memberi hukuman terhadap murid. Hanya guru yang memiliki wibawa yang mampu menangani situasi ini tapi tidak semua guru memiliki kelebihan tersebut.
Untuk guru dulu dengan sekarang sangat jauh berbeda. Dulu guru di dewakan, karena memiliki anggapan bahwa seorang guru maha tau, memiliki wawasan luas sebagai jendela pengetahuan yang jelas karena keterbatasan media informasi, hanya dari gurulah mereka mendapatkan informasi baru. Sehingga sangat dihormati dan diagungkan. Namun sekarang media informasi sangat mudah didapat anak usia dini pun mampu menggenggamnya. Informasi dan pengetahuan sekarang kurang lebih 75% dari informasi luar dan fungsi guru disini kurang lebih hanya 25%. Fungsi dari guru sendiri sekarang ialah menuntun, mengarahkan, memotifasi, menilai dan mengevaluasi hasil kerja siswa. Dan nilai lebinya mampu memberi pendekatan kapada murid yang memiliki kebutuhan kusus, agar tidak melakukan hal diluar batas. Namun tidak sedikit sekarang ini guru tidak memperhatikan semua itu hanyalah mencari materi semata. Tidak sepenuhnya mengajar dengan baik.
Saya sendiri merasakan hal tersebut dimana oknum guru yang memiliki perilaku seperti itu. Murid diberi tugas kerja yang sebelumnya tidak di jelaskan dengan baik hingga murid memahami betul materi dan tugas yang diajarkan. Kemudian murid ditinggal asyik mengoperasikan handpone di depan kelas.
Akhirnya tidak fokus sebagai pendidik namun juga harus di mengerti dari dulu hingga sekarang kesejahteraan guru tidak diperhatikan oleh pemerintah. Padahal hal tersebut menyangkut kinerja guru meliputi peningkatan dedikasi, loyalitas, profesionalitas sebagai guru.guru tidak bisa mengandalkan gaji sebagai guru kecuali perempuan yang memiliki suami berpenghasilan tinggi tetap bulanan. Atau mereka yang benar-benar memiliki jiwa guru tanpa pamrih, karena penghasilan guru sangat jauh dibawah rata-rata UMK. Pada kenyataanya kebutuhan rumah tangga jauh melampaui gaji UMK, dari situ fokus guru sebagai pengajar akan terganggu tugas profesionalitasnya. Kembali lagi pendidikan adalah tolak ukur peradaban suatu bangsa. Di lain sisi kurikulum pendidikan juga sngat berpengaruh, jika kurikulum di bentuk dengan tepat, tidak berganti-ganti seiring pergantian kepemimpinan.
Dipihak lain adalah merosotnya pendidikan karakter bangsa, kaum muda sekarang sudah lupa bahkan tidak mengerti jati diri bangsanya sendiri sudah benar benar diserang oleh arus globalisasi. Padahal hal ini juga sangat penting terhadap kekuatan NKRI. Dan masalah ini juga berada di soal pendanaan pendidikan . Indonesia sangat pelit dalam hal pendanaan pendidikan, meliputi dana penelitian, apresiasi terhadap siswa yang unggul, pada akhirnya mereka membutuhkan bantuan ke luar negeri untuk melanjutkan dan merealisasikan pemikiranya (pendidikan). Pastinya akan dimanfaatkan pihak luar dengan tujuan timbal balik. Itupun jika sudah menyelesaikan pendidikanya di dalam negeri sendiri tidak di apresiasi dan dihargai sehingga tidak betah di negeri sendiri dan hengkang mencari apresiasi dan harga tinggi ke luar negeri .
Satu hal lagi kesalahan dalam pendidikan dasar. Dasar/Fundamental pendidikan sangat mempengaruhi kelanjutanya hingga usia dewasa sampai mereka kritis dalam berfikir. Sekolah dasar harusnya ditangani oleh pendidik yang professional khususnya lulusan dari disiplin ilmu bimbingan konseling, psikolog. Dan lebih baik mereka yang bergelar professor, bukanya sebaliknya mahasiswa yang sudah mampu berfikir kritis ditangani oleh pendidik ahli justru anak usia dini di kelola oleh pendidik yang kurang kompeten, bahkan lulusan sekolah menengah sudah di izinkan untuk mengajar anak usia dini. Bahkan mereka tidak memahami cara mendidik anak usia dini dengan baik, tidak memahami dampak apa yang di tangkap anak usia dini terhadap kedepanya. Dan juga sebagian guru juga belum melaksanakan tugas mendidik sesuai dengan kode etik guru,yang sudah di atur, dan terakhir ialah buruknya fakta Ujian Nasional yang sudah membudaya.
















Ekonomi
Sebagai penggerak kehidupan
Dilain sisi sebagian besar rakyat Indonesia masih memiliki pemikiran sanglaritis dimana orang tua berharap terhadap anaknya untuk berpendidikan tinggi cerdas agar kelak menjadi karyawan, pegawai tetap, PNS. Itu sangat memprihatinkan dari pemikiran mereka ialah berharap sang anak berada di zona aman penghasilan, missal penghasilan tetap, pension usia senja agar tidak berfikir keras terhadap resiko. Mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut justru akan mematikan pemikiran sang anak tidak berani dalam pengambilan resiko, berkehidupan monoton tidak berkembang. Lain sisi Indonesia sangat membutuhkan tenaga wirausaha terampil dan memiliki semangat tinggi. Bukankah wirausaha sangat berpengaruh terhadap angka pengangguran guna penyerapan tenaga kerja, lambat laun dunia industry beralih ke tenaga mesin, jika sanglaritis terus berlanjut tidak bisa dibayangkan sarjana akan berjubel dengan gelar pengangguran.
Apakah mereka tidak menyadari penyerapan tenaga kerja sarjana dengan perbandingan satu banding seribu dimana dari seribu pelamar padahal yang dibutuhkan hanyalah satu atau dua kandidat. Lantas selebihnya akan lari kemana, hal tersebut perlu dipertimbangkan terlebih lagi sekarang akan dimualai system perdagangan bebas missal MEA yang sudah mulai merangkak dan yang akan disetujui ialah TPP. Jika sebagian besar dari kita masih memiliki pandangan yang sanglaritis maka tidak menjamin akan mampu bersaing dengan Negara anggota. Dalam hal ini Negara anggota terutama Negara maju sangat senag bekerja sama dengan Indonesia karena mereka memahami kondisi Negara kita sebagai pangsa pasar mereka, dengan masyarakat Indonesia yang konsumtif, dan sangat senang membeli produk luar , kemudian juga rakyat Indonesia yang masih senang menjadi pegawai tetap dibanding menjadi pengusaha kreatif yang akan menyelamatkan bangsa dari imbas politik luar negeri.  Hal tersebut sangat penting untuk di kaji lagi agar mampu bersaing dengan Negara lain.

Budaya
Budaya Indonesia
Banyak sekali masyarakat gemar mengenakan batik untuk menunjukan bahwa mereka menjunjung tinggi budaya adat setempat padahal arti dari cinta budaya atau nasionalisme lebih dari itu. Yang memang benar nasionalisme ialah berperilaku sesuai etika budaya bangsa, mengharumkan nama bangsa berprestasi  menyelamatkan dan menjaga warisan budaya bukanya menjualnya ke pihak asing. Percuma jika mengenakan batik namun perbuatanya tidak mencerminkan budaya bangsa missal mengkonsumsi narkoba, berperilaku tidak bermoral dll.









PENUTUP

Kesimpulan
Dari seluruh isi akan berjalan baik jika memiliki kesadaran masing-masing dan maju bersama berani ambil resiko berjiwa nasionalisme dan peduli terhadap generasi yang mendatang.

Sunday, 14 April 2013

PERJALANAN HIDUP BAGAI MELALUI LORONG LABIRIN

     Diawal kita lahir di dunia fikiran kita masih nol (0), masih belum bisa bertindak dengan baik. karena itu kita belajar dari setiap tindakan orang tua. mulai menginjak umur anak2 kita mengerti sedikit2 yang umumnya dan harus dilakukan di setiap tindakan.
     Begitu juga disaat kita mulai mengerti, berekeinginan untuk berpendidikan di tingakat dasar orang tualah yang bertanggung jawab untuk menyekolahkan di tingkat dasar, di lingkungan pendidikan dasar kita menjadi lebih mengerti dasar dari sebuah perjalanan , pengetahuan yang nantinya jadi bekal tujuan hidup di masa yang akan datang di sinilah aku berada di sekolah dasar (SD).
     Setelah aku lepas dari lingkungan pendidikan dasar tersebut, aku di hadapkan dengan kejamnya masalah rumah tangga, antara lain masalah ekonomi keluarga , aku hidup di lingkungan keluarga kurang mampu, yang sempat membuat diriku putus asa. dan tidak ada jalan lain kecuali berhenti di tamat SD karena keadaan. Namun Tuhan punya rahasia lain, Tuhan memperlihatkan ke Agunganya dengan jalan seorang guru kiriman dari tuhan mungkin... :D . memberikan informasi bantuan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Dengan keadaan itu aku sadar bahwa di usia itu aku masih belum bisa berfikir yang baik yang harus aku perbuat. mungkin karena itu Tuhan menurunkan sebuah keajaiban, di masa itu aku menjalani kehidupan yang penuh liku suka duka di masa pendidikan tingkat pertama yang sampai akhirnya aku lulus dan berijazah SMP.
     Dengan bangganya aku bisa melaluinya dan ijazah di genggaman, lagi lagi berhadapan dengan kejamnya masalah rumah tangga yang salah satunya masalah ekonomi. Dalam hal itu aku pasrah, dan sempat putus asa, dalam fikiranku , mungkin di usia itu aku harus bekerja karena ekonomi, dan tidak manja manja di lingkungan sekolah, menghamburkan uang yang tidak pasti jalurnya...., Tapi Tuhanpun menurunkan keajaibanya, karena ada rahasia Dia melihat  apa yang dihadapi umatnya, di usia itu aku masih belum cukup berfikir dewasa apa yang harus dilakukan demi masa depan yang lebih baik. Datanglah seorang guru memberikan informasi progam beasiswa pendidikan di sekolah lanjutan tingkat atas akihnya aku menerima itu, menjalani pendidikan itu dengan baik dengan berbagai suka duka liku perjalanan kehidupan. akhirnya aku menuntaskan pendidikan itu sampai akhir. Ijazah pun sudah aku genggam di tangan. Alhamdulillah... 
     Nah di usia itu aku sudah cukup dewasa dalam hal berfikir, sadar apa yang telah aku alami "Bahwa di setiap kita jatuh dari keterpurukan sebuah perjalanan, namun kita punya impian niat tekat sudah di titik lemah yang sudah hampir putus asa, Tuhan pasti akan menurunkan keajaibanya".
aku tau apa yang harus aku perbuat sudah banyak bekal yang aku miliki, aku harus maju,berkembang, menjalani langkah demi langkah melewati lorong lorong Labirin. akhirnya aku memilih untuk bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan uang, membantu sedikit dari beban keluarga. tanpa harus menunggu keajabian datang, harus bertindak apa yang harus aku lakukan. Dan akupun punya impian cita cita untuk melanjutkan lagi ke pendidikan yang lebih tinggi, sekarang aku masuk daftar ke perguruan tinggi dengan biaya sendiri. dengan semua yang telah aku laluai, bahwa kita ibarat berada di dalam denah labirin yang harus terus berfikir maju menemukan jalan menuju finish (tujuan hidup), meski banyak di hadapkan dengan lorong buntu, itu sebuah lorong di mana kita mendapatkan pengalaman manis pahitnya jalan hidup yang nantinya buat bahan cerita dan pengajaran untuk anak cucu. yang terkadang kita dihadapkan dengan bonus bonus di setiap lorong itu bukan lah tujuan hidup, melainkan penyemangat
perjalanan untuk pencapaian tujuan hidup.
......*Bersambung menunggu jalan hidup yang akan datang. :)
    

Wednesday, 23 January 2013

difference in the life of every human being

where we know the origin of a life,
sometimes so severe that accept what is destined god, but have to accept.
silence every day and night are always thinking and asking:'' god why did you give me like this''. everyone booed, everyone discriminates, everyone disgusted, but you create, the god of all religions do not accept my existence, but you create, what should I do?, if I think its quasi be nonsense then where my heart should be anchored??? but all this time I'm stumped with this problem I pobud learned, and try to accept. religious issues only you and I who know this, they said it was lousy, dirty, but this is what you create. I was unwilling to accept. I'm going to be myself what you've created, though they'' foreign eyes.
I live in a country that holds fast to the culture and religion, just the laws of nature but restrained me to make myself not serve to express the real me. that is a discrimination, customary and religious law forbids, but God has created, and now I want to get out of this country to search for identity and the search for a soul mate, but I love it pobud negarak!. I anchored somewhere, somewhere where my heart finds the soul mate I will give all of you! gender issues were not a problem because I created two worlds, only god knows, in my religion also said that mate in the hands of god.
I believe it.
I have prepared all of it in a way that is good and right in the eyes of the law,
I had to find a way through school, I tried to go to school in the country entered graduate, after graduating I tried to find a scholarship abroad, on the occasion I was also looking for a soul mate who had me wait from the first, in which the country can accept what is this myself. oh yeah, even though such a truth, I do not still strong, I run like a normal activity with my friends, so still do not know what is in me, I told you about myself to my dear friend, he was my age, a man, told what it is and I'm sure since he was normal so she still did not believe it, because he thinks in man God only created two properties, and as for that act menyipang it's probably just the game and not from the heart.
That's my story, that's what I have, I hope you accept it because you also have the same thing with what is to me!
Good evening! Warm greetings to you all ...!

 7:11 PM Kediri, January 23, 2013

Tuesday, 22 January 2013

Fans Berat Saya part 2

Dalam masa remajanya, Anggun dipengaruhi oleh seniman Jawa asli maupun oleh penyanyi rock & roll dan band-band seperti Elvis Presley, Metallica dan The Police. Pada tahun 1986, dengan Ian Antono, seorang produser terkenal Indonesia, Anggun merilis album pertama berjudul Dunia Feat resmi Punya tanah air yang mulai kesuksesannya. ketenaran Anggun mencapai puncaknya dengan rilis single berikutnya, "Mimpi" [3] dan terutama "Tua Tua Keladi" [4] (yang terakhir memberinya "The Artist Terpopuler Indonesia 1990-1991" penghargaan). Single ini adalah massal populer di Indonesia. [3] Setelah kesuksesan single ini, Anggun kembali merilis album tindak lanjut; Anak Putih Abu Abu pada tahun 1991 dan kemudian pada tahun 1992 Nocturno. Kedua album mencapai kesuksesan besar dan bahkan didirikan sebagai salah satu "Lady Rocker Indonesia".

Pada tahun 1992, Anggun mulai suatu hubungan dengan Michel Georgea, seorang pria Perancis, yang dijumpainya tahun sebelumnya di Kalimantan saat tur. Pasangan itu memutuskan untuk menikah, meskipun perbedaan usia mereka dan keberatan dikabarkan oleh keluarga Anggun, dilaporkan karena mereka merasa Anggun masih terlalu muda untuk menikah. Setelah menikah, Namun, ia mendirikan sebuah perusahaan rekaman, Bali Cipta Record, [5] (membuatnya penyanyi Indonesia termuda untuk melakukannya) dan apa yang akan dirilis akhir studio album Indonesia, Anggun C. Sasmi ... Lah! pada tahun 1993. [5] Dia berusaha menanggalkan citra tomboi dengan video untuk album pertama tunggal, "Kembalilah Kasih (Kita Harus Bicara)" [5]. Sementara itu, menjadi video musik pertama oleh seniman Indonesia untuk muncul di MTV Asia, Hong Kong. Album ini smash hit untuk Anggun lain tapi ia mulai merasa tidak puas dengan sukses di negaranya dan mulai berpikir tentang memiliki karir musik internasional. Sebelumnya pada tahun 1992, Anggun menandatangani kesepakatan dengan sebuah perusahaan rekaman terkenal Jepang di Singapura, Pony Canyon, untuk merekam album bahasa Inggris yang akan dirilis di Asia. Tapi kemudian, proyek tersebut dibatalkan, sebagai Anggun ingin membawa bakatnya ke Barat.

Akhirnya, pada tahun 1994 setelah merilis album kompilasi yang berisi semua penemuan Indonesia berjudul Yang Hilang, dia menjual perusahaan rekamannya untuk mendanai dia pindah ke Eropa.
Pada tahun 1994, Anggun memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan mewujudkan impiannya menjadi artis bertaraf internasional. Dengan bantuan Erick Benzi, seorang produser besar Perancis, pada tahun 1997, Anggun berhasil merilis album internasional pertamanya berjudul Snow on the Sahara di 33 negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat yang menjadi baromoeter musik internasional. Sejak saat itu Anggun telah menghasilkan sebanyak lima album internasional yang direkam dalam multi-bahasa, terutama bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Anggun juga telah berkolaborasi dengan banyak artis mancanegara, termasuk di antaranya Julio Iglesias, Peter Gabriel, dan Pras Michel dari grup The Fugees.
Anggun merupakan penyanyi Indonesia pertama yang berhasil menembus industri musik internasional dan album-albumnya telah meraih penghargaan gold dan platinum di beberapa negara Eropa. Anggun telah menjual lebih dari 10 juta kopi rekaman sepanjang perjalanan kariernya.[1] Beberapa penghargaan telah diraih Anggun atas pencapaiannya, termasuk di antaranya anugerah prestisius "Chevalier des Arts et Lettres" dari pemerintah Perancis. Anggun juga telah dua kali didaulat menjadi duta global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu untuk program Mikrokredit pada tahun 2005 dan Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2009.

Sumber: http://id.shvoong.com , http://id.wikipedia.org

EDISI REVISI JURNALISME SASTRAWI:PENGANTAR:part 1



EDISI REVISI
JURNALISME SASTRAWI
 
PENGANTAR
Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita
SEMUA INI BERMULA DARI KEISENGAN BELAKA. Pada Maret 2000, dr satu apartemen kecil di dekat harvard Square, jantung kota Cambrigde, Amerika Serikat saya mengirim sepucuk email kepada dua mailing list yang anggota-anggotanya  kebanyakan orang indonesia :wartawan,seniman,dosen,peneliti,dan sebagainya.
            Isinya satu pertanyaan yang diterangkan dengan agak panjang – lebar. Mengapa di Indonesia tak ada surat kabar di mana orang bisa menulis narasi secara panjang dan utuh? Mengapa jurnalisme sastrawi (literary journalism) tak berkembang di kalangan wartawan,sastrawan,seniman,dan cendikiawan Indonesia?
            Pertanyaan itu muncul sejak semester sebelumnya ketika saya mengikuti mata kuliah non-fiction writing dalam program Nieman Fellowship on Journalism di Universitas Harvard. ‘’Kalau di Amerika Serikat mereka punya majalah Time, Newsweek, dan sejenisnya, kita juga punya Tempo, Gatra, dan lain-lain. Kalau Amerika punya harian The New York Times, The Washington Post, kita juga punya harian sejenis. Tapi mengapa kita ompong di jurnalisme sastrawi?’’
            ‘’Jurnalisme Sastrawi’’ adalah satu dari setidaknya tiga nama buat genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat dimana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukandengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak di baca. Tom Wolfe, wartawan-cum-novelis, pada 1960-an memperkenalkan genre inidengan nama ‘’new journalism’’ (jurnalisme baru). Kritisi  menanggapi, ‘’Apa yang baru?’’Maka pada 1973 Wolfe dan EW Johnson menerbitkan antologi dengan judul  The New Journalism. Mereka jadi editor. Mereka memasukan narasi-narasi terkemuka zaman itu. Antara lain dari Hunter  S. Thompson, Joan Didion, Truman Capote, Jimmy Breslin,dan Wolfe sendiri. Wolfe dan Johnson menulis kata pengantar. Mereka bilang genre ini berbeda dari sehari-hari karena dalam bertutur mereka menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person point of view), serta penuh dengan detail.
            Wawancara bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan lebih sering ratusan, narasumber. Risetnya tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua, tapibisa berbulan-bulan. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa. Bukan orang terkenal.
            Beberapa pemikir jurnalisme mengembangkan temuan Wolfe.ada yang pakai nama ‘’passionate journalism’’.  Pulitzer Prize menyebutnya ‘’explorative journalism’’. Apapun nama yang diberikan, genre ini menukik sangat dalam. Lebih dalam daripada yang disebut sebagai in-depth reporting. Ia bukan saja melaporkan sesorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu. Ada karakter ,ada drama, ada babak,ada adegan, adakonflik. Laporanya panjang dan utuh tidak pecah-pecah ke dalam beberapa laporan.
            Roy Peter Clark, seorang guru menulis di poynter Institute, Florida, mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekat an baru yang naratif. 5W 1H adalah singakatan dari who,what,where,when,whay,dan how. Pada narasi, menurut Clark dalam satu esei Neiman Reports, who berubah menjadi karakter, what menjadi plot atau alur, where menjadi setting,when menjadi kronologi,why menjadi motif,dan how menjadi narasi.
            Ada juga yang bilang genre ini jawaban media cetak terhadap sebuah televisi,radio,dan internet. Hari ini praktis tak ada orang mendapatkanbreaking news dari surat kabar. Orang mengandalkan media elektronik. Surat kabar tak bisa bersaing cepat dengan media elektronik. Namun media elektronik sulit bersaing kedalaman dengan media cetak. Surat kabar bisa berkembang bila ia menyajikan berita yang dalam dan analitis. Genre ini makanya disajikan panjang. Majalah The New Yorker pernah menerbitkan satu laporan hanya dalam satu edisi majalah. Judulnya ‘’Hiroshima’’ karya john Hersey yang dimuat pada 31 Agustus 1946.