Saturday, 12 December 2015

PEMBENAHAN SYSTEM EKONOMI SOSIAL PENDIDIKAN DAN BUDAYA Langkah Pembangunan Negeri Berbudaya (Essai)

PEMBENAHAN SYSTEM EKONOMI SOSIAL PENDIDIKAN DAN BUDAYA
Langkah Pembangunan Negeri Berbudaya

Semua  system ekonomi sosial pendidikan dan budaya pariwisata  tersebut adalah tolak ukur sebuah pembangun peradaban budaya yang sangat vital. Maka dari itu perlu pembenahan sedikit demi sedikit satu persatu untuk langkah menuju pembangunan.


















11/30/2015

WAHYU FEBRIANTO

 





















PENDAHULUAN

Dimulai dari “masalah sistem sosial dimana harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada  atau sebagai kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang seharusnya” dikutip dari Wikipedia Indonesia. Di Negara  ini masih seperti itu masih terjadi banyak masalah kerusuhan, narkoba, KKN mendominasi dan sebagainya.
Begitu pula pendidikan di Negera ini yang masih jauh dari harapan karena berbagai masalah pemerataan kesejahteraan sekolah, kesejahteraan guru, guru tidak professional dan loyal dalam mengabdi, kenakalan remaja, siswa yang tidak menghargai guru, dan pendanaan pendidikan yang sangat pelit pada akhirnya menimbulkan berbagai masalah besar yang timbul di dunia pendidikan.
Dan juga permasalahan-permasalahan ekonomi, budaya yang harus diperbaiki ditata dengan baik guna untuk program pembangunan Negeri ini yang berbudaya.











ISI

Sosial
Masalah sosial yang mendarah daging
Cukup menyedihkan memang masih aktifnya individualisme di Negara ini, mencoba meraih segala hal demi kepentingan pribadi. Para pemimpin yang seharusnya menjadi tiang sandaran rakyat yang haus akan sebuah keadilan justru terseret kedalam lembah kasus politik yang tidak bermoral. Disini yang sangat rugi ialah rakyat yang harus menanggung akibatnya. Lantas bagaimana cara memotong mata rantai perbuatan yang tidak ber-etika tersebut? apakah dengan sebuah pendidikan cukup? Saya rasa tidak. Pendidikan hanyalah sebagai pengubah cara berfikir tiap kepala.
Dengan di aplikasikan system pemerintahan yang transparan mungkin jauh lebih efektif, keterbukaan pemerintah terhadap kebutuhan rakyatnya, missal  data anggaran dan realisasi yang transparan dipublikasikan terhadap rakyat supaya tidak menimbulkan saling kecurigaan. Misal kasus yang masih hangat baru ini pesrsidangan MKD dengan keterbukaan yang mungkin tidak menimbulkan kecurigaan, jika semua keperluan di publikasikan dan dimusyawarahkan secara terbuka kecuali rahasia Negara saya rasa cukup efektif untuk menghindari kecurigaan dan perbuatan KKN. Di Negara kita yang menggunakan system voting terhadap pemilihan politik, di kasus ini juga menjadi akibat dari masalah-masalah perilaku oknum pemerintahan. Banyaknya perbuatan suap demi mendapat hak suara tertingi apapun dilakukan missal menyebar uang tip kepada rakyat calon pemilih, hal tersebut sudah mendarah daging padahal perbuatan yang tidak ber-etika. Bukankah sebaiknya digunakan untuk kepenting pembangunan fasilitas rakyat dari pada untuk menyuap. Dari sini pemimpin terpilih berhubung masih berfikir untung rugi bukanya pengabdian akan mencari pemulihan dana dari hal tersebut dengan cara apapun tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi. Harusnnya paham betul sebagian besar masyarakat mesih belum peka dengan hal tersebut intinya mereka mendapatkan uang sesaat tidak memikirkan kedepanya.
Kaum kapitalis yang mudah sekali mempermainkan hukum demi kepentingan pribadi cukup disayangkan hal tersebut merusak citra landasan hukum Indonesia yang terhormat. Di sini juga pihak yang bersangkutan hanya karena uang, keadilan,  UU, dan peraturan mampu di ubah. Apakah mereka tidak sadar rakyat luas memperhatikan hal tersebut, atau menganggap rakyat tidak memiliki kekuatan untuk menuntut hal tersebut sungguh memprihatinkan.  Jika terjadi semacam ini akan sulit untuk membangun Negara kita yang berbudaya. Cukup sulit untuk menata karakter dari pada insfrstruktur megah.
Lagi Tibor R. Machan dari bukunya Kebebasan dan Kebudayaan menyatakan : “jika harus percaya terhadap semacam partai, memberikan hak suara adalah tanggung jawab politik kita yang suci dan satu-satunya. Memberikan suara adalah awal dan akhir dari kodrat kita sebagai mahluk politik. Namun sebagian besar rakyat tidak mampu menangani masalah-masalah politik, bahkan sekalipun mereka menginginkannya. Berbeda dengan pedagang sayur, dokter, mortar, guru tari, dan kaum professional lainya, yang kita bayar supaya bekerja dengan baik kepada kita. Para politisi kita tidak punya pekerjaan yang jelas. Mereka dituntut  untuk menguasai ribuan persoalan tetapi sebetulnya tidak memiliki keahlian dalam bidang apapun”. Lantas pemikiran apa yang ada di benak politisi saat mereka mengajukan diri menjadi pemimpin? Kita pun tidak memahaminya, janji-janji yang mereka berikan misalkan pembangunan, perekonomian akan maju, pendidikan akan dikepentingkan, insfrakstruktur, kesehatan dan lain-lain. Apakah mereka paham dengan hal semua itu ? saya rasa tidak. Semua akan dilimpahkan terhadap dewan-dewan kaki tangan sang presiden, padahal mereka sudah bermasalah yang berkesinambungan dari sebelumnya. Apakah pemimpin hanya sebagai boneka politik? Sebagian besar dari mereka adalah konglomerat dari hasil warisan yang tidak mengerti apapun tentang kepemimpinan. Ada kaki tangan yang membantunya dan tidak semua dari meraka mengabdi penuh.


Pendidikan
Memahami pendidikan di kota ini
Bukankah pendidikan adalah barometer peradaban pembangunan suatu bangsa yang berbudaya, karena itu pendidikan nomer satu yang harus di fokuskan. Pendanaan pendidikan suda mulai berkucuran namun kenapa masih tinggi angka putus sekolah di Negara ini. Mereka memilih indahnya dunia luar yang hingar bingar terjun ke hal negative ke jalanan, disini bukan salah pemerintah , butuh perlakuan khusus untuk dapat memecahkan masalah ini. Banyak berbagai kasus anak didik yang bermasalah , mereka yang hiperaktif lalu suka mencari perhatian di jalan yang salah, mencari keributan, berani menentang guru, tidak menghargai dan mneghormati guru. Lebih lagi sekarang ada peraturan UU perlindungan anak yang melindungi anak didik dari sebuah kekerasan,. Namun hal ini justru disalah gunakan oleh anak didik yang nakal. Mereka berbuat semena-mena di kelas, acuhkan guru, berani, karena guru tidak mampu untuk memberi hukuman terhadap murid. Hanya guru yang memiliki wibawa yang mampu menangani situasi ini tapi tidak semua guru memiliki kelebihan tersebut.
Untuk guru dulu dengan sekarang sangat jauh berbeda. Dulu guru di dewakan, karena memiliki anggapan bahwa seorang guru maha tau, memiliki wawasan luas sebagai jendela pengetahuan yang jelas karena keterbatasan media informasi, hanya dari gurulah mereka mendapatkan informasi baru. Sehingga sangat dihormati dan diagungkan. Namun sekarang media informasi sangat mudah didapat anak usia dini pun mampu menggenggamnya. Informasi dan pengetahuan sekarang kurang lebih 75% dari informasi luar dan fungsi guru disini kurang lebih hanya 25%. Fungsi dari guru sendiri sekarang ialah menuntun, mengarahkan, memotifasi, menilai dan mengevaluasi hasil kerja siswa. Dan nilai lebinya mampu memberi pendekatan kapada murid yang memiliki kebutuhan kusus, agar tidak melakukan hal diluar batas. Namun tidak sedikit sekarang ini guru tidak memperhatikan semua itu hanyalah mencari materi semata. Tidak sepenuhnya mengajar dengan baik.
Saya sendiri merasakan hal tersebut dimana oknum guru yang memiliki perilaku seperti itu. Murid diberi tugas kerja yang sebelumnya tidak di jelaskan dengan baik hingga murid memahami betul materi dan tugas yang diajarkan. Kemudian murid ditinggal asyik mengoperasikan handpone di depan kelas.
Akhirnya tidak fokus sebagai pendidik namun juga harus di mengerti dari dulu hingga sekarang kesejahteraan guru tidak diperhatikan oleh pemerintah. Padahal hal tersebut menyangkut kinerja guru meliputi peningkatan dedikasi, loyalitas, profesionalitas sebagai guru.guru tidak bisa mengandalkan gaji sebagai guru kecuali perempuan yang memiliki suami berpenghasilan tinggi tetap bulanan. Atau mereka yang benar-benar memiliki jiwa guru tanpa pamrih, karena penghasilan guru sangat jauh dibawah rata-rata UMK. Pada kenyataanya kebutuhan rumah tangga jauh melampaui gaji UMK, dari situ fokus guru sebagai pengajar akan terganggu tugas profesionalitasnya. Kembali lagi pendidikan adalah tolak ukur peradaban suatu bangsa. Di lain sisi kurikulum pendidikan juga sngat berpengaruh, jika kurikulum di bentuk dengan tepat, tidak berganti-ganti seiring pergantian kepemimpinan.
Dipihak lain adalah merosotnya pendidikan karakter bangsa, kaum muda sekarang sudah lupa bahkan tidak mengerti jati diri bangsanya sendiri sudah benar benar diserang oleh arus globalisasi. Padahal hal ini juga sangat penting terhadap kekuatan NKRI. Dan masalah ini juga berada di soal pendanaan pendidikan . Indonesia sangat pelit dalam hal pendanaan pendidikan, meliputi dana penelitian, apresiasi terhadap siswa yang unggul, pada akhirnya mereka membutuhkan bantuan ke luar negeri untuk melanjutkan dan merealisasikan pemikiranya (pendidikan). Pastinya akan dimanfaatkan pihak luar dengan tujuan timbal balik. Itupun jika sudah menyelesaikan pendidikanya di dalam negeri sendiri tidak di apresiasi dan dihargai sehingga tidak betah di negeri sendiri dan hengkang mencari apresiasi dan harga tinggi ke luar negeri .
Satu hal lagi kesalahan dalam pendidikan dasar. Dasar/Fundamental pendidikan sangat mempengaruhi kelanjutanya hingga usia dewasa sampai mereka kritis dalam berfikir. Sekolah dasar harusnya ditangani oleh pendidik yang professional khususnya lulusan dari disiplin ilmu bimbingan konseling, psikolog. Dan lebih baik mereka yang bergelar professor, bukanya sebaliknya mahasiswa yang sudah mampu berfikir kritis ditangani oleh pendidik ahli justru anak usia dini di kelola oleh pendidik yang kurang kompeten, bahkan lulusan sekolah menengah sudah di izinkan untuk mengajar anak usia dini. Bahkan mereka tidak memahami cara mendidik anak usia dini dengan baik, tidak memahami dampak apa yang di tangkap anak usia dini terhadap kedepanya. Dan juga sebagian guru juga belum melaksanakan tugas mendidik sesuai dengan kode etik guru,yang sudah di atur, dan terakhir ialah buruknya fakta Ujian Nasional yang sudah membudaya.
















Ekonomi
Sebagai penggerak kehidupan
Dilain sisi sebagian besar rakyat Indonesia masih memiliki pemikiran sanglaritis dimana orang tua berharap terhadap anaknya untuk berpendidikan tinggi cerdas agar kelak menjadi karyawan, pegawai tetap, PNS. Itu sangat memprihatinkan dari pemikiran mereka ialah berharap sang anak berada di zona aman penghasilan, missal penghasilan tetap, pension usia senja agar tidak berfikir keras terhadap resiko. Mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut justru akan mematikan pemikiran sang anak tidak berani dalam pengambilan resiko, berkehidupan monoton tidak berkembang. Lain sisi Indonesia sangat membutuhkan tenaga wirausaha terampil dan memiliki semangat tinggi. Bukankah wirausaha sangat berpengaruh terhadap angka pengangguran guna penyerapan tenaga kerja, lambat laun dunia industry beralih ke tenaga mesin, jika sanglaritis terus berlanjut tidak bisa dibayangkan sarjana akan berjubel dengan gelar pengangguran.
Apakah mereka tidak menyadari penyerapan tenaga kerja sarjana dengan perbandingan satu banding seribu dimana dari seribu pelamar padahal yang dibutuhkan hanyalah satu atau dua kandidat. Lantas selebihnya akan lari kemana, hal tersebut perlu dipertimbangkan terlebih lagi sekarang akan dimualai system perdagangan bebas missal MEA yang sudah mulai merangkak dan yang akan disetujui ialah TPP. Jika sebagian besar dari kita masih memiliki pandangan yang sanglaritis maka tidak menjamin akan mampu bersaing dengan Negara anggota. Dalam hal ini Negara anggota terutama Negara maju sangat senag bekerja sama dengan Indonesia karena mereka memahami kondisi Negara kita sebagai pangsa pasar mereka, dengan masyarakat Indonesia yang konsumtif, dan sangat senang membeli produk luar , kemudian juga rakyat Indonesia yang masih senang menjadi pegawai tetap dibanding menjadi pengusaha kreatif yang akan menyelamatkan bangsa dari imbas politik luar negeri.  Hal tersebut sangat penting untuk di kaji lagi agar mampu bersaing dengan Negara lain.

Budaya
Budaya Indonesia
Banyak sekali masyarakat gemar mengenakan batik untuk menunjukan bahwa mereka menjunjung tinggi budaya adat setempat padahal arti dari cinta budaya atau nasionalisme lebih dari itu. Yang memang benar nasionalisme ialah berperilaku sesuai etika budaya bangsa, mengharumkan nama bangsa berprestasi  menyelamatkan dan menjaga warisan budaya bukanya menjualnya ke pihak asing. Percuma jika mengenakan batik namun perbuatanya tidak mencerminkan budaya bangsa missal mengkonsumsi narkoba, berperilaku tidak bermoral dll.









PENUTUP

Kesimpulan
Dari seluruh isi akan berjalan baik jika memiliki kesadaran masing-masing dan maju bersama berani ambil resiko berjiwa nasionalisme dan peduli terhadap generasi yang mendatang.