|
PEMBENAHAN
SYSTEM EKONOMI SOSIAL PENDIDIKAN DAN BUDAYA
Langkah Pembangunan Negeri
Berbudaya
Semua system ekonomi sosial pendidikan dan
budaya pariwisata tersebut adalah
tolak ukur sebuah pembangun peradaban budaya yang sangat vital. Maka dari
itu perlu pembenahan sedikit demi sedikit satu persatu untuk langkah menuju
pembangunan.
11/30/2015
WAHYU FEBRIANTO
|
PENDAHULUAN
Dimulai
dari “masalah sistem sosial dimana harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang
ada atau sebagai kesenjangan antara
situasi yang ada dengan situasi yang seharusnya” dikutip dari Wikipedia Indonesia. Di Negara ini masih seperti itu masih terjadi banyak masalah
kerusuhan, narkoba, KKN mendominasi dan sebagainya.
Begitu
pula pendidikan di Negera ini yang masih jauh dari harapan karena berbagai
masalah pemerataan kesejahteraan sekolah, kesejahteraan guru, guru tidak
professional dan loyal dalam mengabdi, kenakalan remaja, siswa yang tidak
menghargai guru, dan pendanaan pendidikan yang sangat pelit pada akhirnya
menimbulkan berbagai masalah besar yang timbul di dunia pendidikan.
Dan
juga permasalahan-permasalahan ekonomi, budaya yang harus diperbaiki ditata
dengan baik guna untuk program pembangunan Negeri ini yang berbudaya.
ISI
Sosial
Masalah sosial yang mendarah daging
Cukup
menyedihkan memang masih aktifnya individualisme di Negara ini, mencoba meraih
segala hal demi kepentingan pribadi. Para pemimpin yang seharusnya menjadi
tiang sandaran rakyat yang haus akan sebuah keadilan justru terseret kedalam
lembah kasus politik yang tidak bermoral. Disini yang sangat rugi ialah rakyat
yang harus menanggung akibatnya. Lantas bagaimana cara memotong mata rantai
perbuatan yang tidak ber-etika tersebut? apakah dengan sebuah pendidikan cukup?
Saya rasa tidak. Pendidikan hanyalah sebagai pengubah cara berfikir tiap
kepala.
Dengan
di aplikasikan system pemerintahan yang transparan mungkin jauh lebih efektif,
keterbukaan pemerintah terhadap kebutuhan rakyatnya, missal data anggaran dan realisasi yang transparan
dipublikasikan terhadap rakyat supaya tidak menimbulkan saling kecurigaan.
Misal kasus yang masih hangat baru ini pesrsidangan MKD dengan keterbukaan yang
mungkin tidak menimbulkan kecurigaan, jika semua keperluan di publikasikan dan
dimusyawarahkan secara terbuka kecuali rahasia Negara saya rasa cukup efektif
untuk menghindari kecurigaan dan perbuatan KKN. Di Negara kita yang menggunakan
system voting terhadap pemilihan politik, di kasus ini juga menjadi akibat dari
masalah-masalah perilaku oknum pemerintahan. Banyaknya perbuatan suap demi
mendapat hak suara tertingi apapun dilakukan missal menyebar uang tip kepada
rakyat calon pemilih, hal tersebut sudah mendarah daging padahal perbuatan yang
tidak ber-etika. Bukankah sebaiknya digunakan untuk kepenting pembangunan
fasilitas rakyat dari pada untuk menyuap. Dari sini pemimpin terpilih berhubung
masih berfikir untung rugi bukanya pengabdian akan mencari pemulihan dana dari
hal tersebut dengan cara apapun tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi.
Harusnnya paham betul sebagian besar masyarakat mesih belum peka dengan hal
tersebut intinya mereka mendapatkan uang sesaat tidak memikirkan kedepanya.
Kaum
kapitalis yang mudah sekali mempermainkan hukum demi kepentingan pribadi cukup
disayangkan hal tersebut merusak citra landasan hukum Indonesia yang terhormat.
Di sini juga pihak yang bersangkutan hanya karena uang, keadilan, UU, dan peraturan mampu di ubah. Apakah
mereka tidak sadar rakyat luas memperhatikan hal tersebut, atau menganggap
rakyat tidak memiliki kekuatan untuk menuntut hal tersebut sungguh memprihatinkan. Jika terjadi semacam ini akan sulit untuk
membangun Negara kita yang berbudaya. Cukup sulit untuk menata karakter dari
pada insfrstruktur megah.
Lagi
Tibor R. Machan dari bukunya Kebebasan dan Kebudayaan menyatakan : “jika
harus percaya terhadap semacam partai, memberikan hak suara adalah tanggung
jawab politik kita yang suci dan satu-satunya. Memberikan suara adalah awal dan
akhir dari kodrat kita sebagai mahluk politik. Namun sebagian besar rakyat
tidak mampu menangani masalah-masalah politik, bahkan sekalipun mereka
menginginkannya. Berbeda dengan pedagang sayur, dokter, mortar, guru tari, dan
kaum professional lainya, yang kita bayar supaya bekerja dengan baik kepada
kita. Para politisi kita tidak punya pekerjaan yang jelas. Mereka dituntut untuk menguasai ribuan persoalan tetapi
sebetulnya tidak memiliki keahlian dalam bidang apapun”. Lantas pemikiran apa
yang ada di benak politisi saat mereka mengajukan diri menjadi pemimpin? Kita
pun tidak memahaminya, janji-janji yang mereka berikan misalkan pembangunan,
perekonomian akan maju, pendidikan akan dikepentingkan, insfrakstruktur,
kesehatan dan lain-lain. Apakah mereka paham dengan hal semua itu ? saya rasa
tidak. Semua akan dilimpahkan terhadap dewan-dewan kaki tangan sang presiden,
padahal mereka sudah bermasalah yang berkesinambungan dari sebelumnya. Apakah
pemimpin hanya sebagai boneka politik? Sebagian besar dari mereka adalah
konglomerat dari hasil warisan yang tidak mengerti apapun tentang kepemimpinan.
Ada kaki tangan yang membantunya dan tidak semua dari meraka mengabdi penuh.
Pendidikan
Memahami pendidikan di kota ini
Bukankah
pendidikan adalah barometer peradaban pembangunan suatu bangsa yang berbudaya,
karena itu pendidikan nomer satu yang harus di fokuskan. Pendanaan pendidikan suda
mulai berkucuran namun kenapa masih tinggi angka putus sekolah di Negara ini. Mereka
memilih indahnya dunia luar yang hingar bingar terjun ke hal negative ke
jalanan, disini bukan salah pemerintah , butuh perlakuan khusus untuk dapat
memecahkan masalah ini. Banyak berbagai kasus anak didik yang bermasalah ,
mereka yang hiperaktif lalu suka mencari perhatian di jalan yang salah, mencari
keributan, berani menentang guru, tidak menghargai dan mneghormati guru. Lebih
lagi sekarang ada peraturan UU perlindungan anak yang melindungi anak didik
dari sebuah kekerasan,. Namun hal ini justru disalah gunakan oleh anak didik
yang nakal. Mereka berbuat semena-mena di kelas, acuhkan guru, berani, karena
guru tidak mampu untuk memberi hukuman terhadap murid. Hanya guru yang memiliki
wibawa yang mampu menangani situasi ini tapi tidak semua guru memiliki
kelebihan tersebut.
Untuk
guru dulu dengan sekarang sangat jauh berbeda. Dulu guru di dewakan, karena
memiliki anggapan bahwa seorang guru maha tau, memiliki wawasan luas sebagai
jendela pengetahuan yang jelas karena keterbatasan media informasi, hanya dari
gurulah mereka mendapatkan informasi baru. Sehingga sangat dihormati dan
diagungkan. Namun sekarang media informasi sangat mudah didapat anak usia dini
pun mampu menggenggamnya. Informasi dan pengetahuan sekarang kurang lebih 75%
dari informasi luar dan fungsi guru disini kurang lebih hanya 25%. Fungsi dari
guru sendiri sekarang ialah menuntun, mengarahkan, memotifasi, menilai dan
mengevaluasi hasil kerja siswa. Dan nilai lebinya mampu memberi pendekatan
kapada murid yang memiliki kebutuhan kusus, agar tidak melakukan hal diluar
batas. Namun tidak sedikit sekarang ini guru tidak memperhatikan semua itu
hanyalah mencari materi semata. Tidak sepenuhnya mengajar dengan baik.
Saya
sendiri merasakan hal tersebut dimana oknum guru yang memiliki perilaku seperti
itu. Murid diberi tugas kerja yang sebelumnya tidak di jelaskan dengan baik
hingga murid memahami betul materi dan tugas yang diajarkan. Kemudian murid
ditinggal asyik mengoperasikan handpone di depan kelas.
Akhirnya
tidak fokus sebagai pendidik namun juga harus di mengerti dari dulu hingga
sekarang kesejahteraan guru tidak diperhatikan oleh pemerintah. Padahal hal
tersebut menyangkut kinerja guru meliputi peningkatan dedikasi, loyalitas,
profesionalitas sebagai guru.guru tidak bisa mengandalkan gaji sebagai
guru kecuali perempuan yang memiliki suami berpenghasilan tinggi tetap bulanan.
Atau mereka yang benar-benar memiliki jiwa guru tanpa pamrih, karena
penghasilan guru sangat jauh dibawah rata-rata UMK. Pada kenyataanya kebutuhan
rumah tangga jauh melampaui gaji UMK, dari situ fokus guru sebagai pengajar
akan terganggu tugas profesionalitasnya. Kembali lagi pendidikan adalah tolak
ukur peradaban suatu bangsa. Di lain sisi kurikulum pendidikan juga sngat
berpengaruh, jika kurikulum di bentuk dengan tepat, tidak berganti-ganti
seiring pergantian kepemimpinan.
Dipihak
lain adalah merosotnya pendidikan karakter bangsa, kaum muda sekarang sudah
lupa bahkan tidak mengerti jati diri bangsanya sendiri sudah benar benar
diserang oleh arus globalisasi. Padahal hal ini juga sangat penting terhadap
kekuatan NKRI. Dan masalah ini juga berada di soal pendanaan pendidikan .
Indonesia sangat pelit dalam hal pendanaan pendidikan, meliputi dana
penelitian, apresiasi terhadap siswa yang unggul, pada akhirnya mereka
membutuhkan bantuan ke luar negeri untuk melanjutkan dan merealisasikan
pemikiranya (pendidikan). Pastinya akan dimanfaatkan pihak luar dengan tujuan
timbal balik. Itupun jika sudah menyelesaikan pendidikanya di dalam negeri
sendiri tidak di apresiasi dan dihargai sehingga tidak betah di negeri sendiri
dan hengkang mencari apresiasi dan harga tinggi ke luar negeri .
Satu
hal lagi kesalahan dalam pendidikan dasar. Dasar/Fundamental pendidikan sangat
mempengaruhi kelanjutanya hingga usia dewasa sampai mereka kritis dalam
berfikir. Sekolah dasar harusnya ditangani oleh pendidik yang professional
khususnya lulusan dari disiplin ilmu bimbingan konseling, psikolog. Dan lebih
baik mereka yang bergelar professor, bukanya sebaliknya mahasiswa yang sudah
mampu berfikir kritis ditangani oleh pendidik ahli justru anak usia dini di
kelola oleh pendidik yang kurang kompeten, bahkan lulusan sekolah menengah
sudah di izinkan untuk mengajar anak usia dini. Bahkan mereka tidak memahami
cara mendidik anak usia dini dengan baik, tidak memahami dampak apa yang di
tangkap anak usia dini terhadap kedepanya. Dan juga sebagian guru juga belum
melaksanakan tugas mendidik sesuai dengan kode etik guru,yang sudah di atur,
dan terakhir ialah buruknya fakta Ujian Nasional yang sudah membudaya.
Ekonomi
Sebagai penggerak kehidupan
Dilain
sisi sebagian besar rakyat Indonesia masih memiliki pemikiran sanglaritis dimana orang tua berharap
terhadap anaknya untuk berpendidikan tinggi cerdas agar kelak menjadi karyawan,
pegawai tetap, PNS. Itu sangat memprihatinkan dari pemikiran mereka ialah
berharap sang anak berada di zona aman penghasilan, missal penghasilan tetap,
pension usia senja agar tidak berfikir keras terhadap resiko. Mereka tidak menyadari
bahwa hal tersebut justru akan mematikan pemikiran sang anak tidak berani dalam
pengambilan resiko, berkehidupan monoton tidak berkembang. Lain sisi Indonesia sangat
membutuhkan tenaga wirausaha terampil dan memiliki semangat tinggi. Bukankah
wirausaha sangat berpengaruh terhadap angka pengangguran guna penyerapan tenaga
kerja, lambat laun dunia industry beralih ke tenaga mesin, jika sanglaritis
terus berlanjut tidak bisa dibayangkan sarjana akan berjubel dengan gelar
pengangguran.
Apakah
mereka tidak menyadari penyerapan tenaga kerja sarjana dengan perbandingan satu
banding seribu dimana dari seribu pelamar padahal yang dibutuhkan hanyalah satu
atau dua kandidat. Lantas selebihnya akan lari kemana, hal tersebut perlu
dipertimbangkan terlebih lagi sekarang akan dimualai system perdagangan bebas
missal MEA yang sudah mulai merangkak dan yang akan disetujui ialah TPP. Jika
sebagian besar dari kita masih memiliki pandangan yang sanglaritis maka tidak menjamin akan mampu bersaing dengan Negara
anggota. Dalam hal ini Negara anggota terutama Negara maju sangat senag bekerja
sama dengan Indonesia karena mereka memahami kondisi Negara kita sebagai pangsa
pasar mereka, dengan masyarakat Indonesia yang konsumtif, dan sangat senang
membeli produk luar , kemudian juga rakyat Indonesia yang masih senang menjadi
pegawai tetap dibanding menjadi pengusaha kreatif yang akan menyelamatkan
bangsa dari imbas politik luar negeri.
Hal tersebut sangat penting untuk di kaji lagi agar mampu bersaing
dengan Negara lain.
Budaya
Budaya Indonesia
Banyak
sekali masyarakat gemar mengenakan batik untuk menunjukan bahwa mereka
menjunjung tinggi budaya adat setempat padahal arti dari cinta budaya atau
nasionalisme lebih dari itu. Yang memang benar nasionalisme ialah berperilaku
sesuai etika budaya bangsa, mengharumkan nama bangsa berprestasi menyelamatkan dan menjaga warisan budaya bukanya
menjualnya ke pihak asing. Percuma jika mengenakan batik namun perbuatanya
tidak mencerminkan budaya bangsa missal mengkonsumsi narkoba, berperilaku tidak
bermoral dll.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
seluruh isi akan berjalan baik jika memiliki kesadaran masing-masing dan maju
bersama berani ambil resiko berjiwa nasionalisme dan peduli terhadap generasi
yang mendatang.