EDISI REVISI
JURNALISME SASTRAWI
PENGANTAR
Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita
SEMUA
INI BERMULA DARI KEISENGAN BELAKA. Pada
Maret 2000, dr satu apartemen kecil di dekat harvard Square, jantung kota
Cambrigde, Amerika Serikat saya mengirim sepucuk email kepada dua mailing list yang
anggota-anggotanya kebanyakan orang
indonesia :wartawan,seniman,dosen,peneliti,dan sebagainya.
Isinya satu pertanyaan yang
diterangkan dengan agak panjang – lebar. Mengapa di Indonesia tak ada surat
kabar di mana orang bisa menulis narasi secara panjang dan utuh? Mengapa
jurnalisme sastrawi (literary journalism) tak berkembang di kalangan wartawan,sastrawan,seniman,dan
cendikiawan Indonesia?
Pertanyaan itu muncul sejak semester
sebelumnya ketika saya mengikuti mata kuliah non-fiction writing dalam program
Nieman Fellowship on Journalism di Universitas Harvard. ‘’Kalau di Amerika
Serikat mereka punya majalah Time, Newsweek, dan sejenisnya, kita juga punya
Tempo, Gatra, dan lain-lain. Kalau Amerika punya harian The New York Times, The
Washington Post, kita juga punya harian sejenis. Tapi mengapa kita ompong di
jurnalisme sastrawi?’’
‘’Jurnalisme Sastrawi’’ adalah satu
dari setidaknya tiga nama buat genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang
di Amerika Serikat dimana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan
dilakukandengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak di baca. Tom Wolfe, wartawan-cum-novelis,
pada 1960-an memperkenalkan genre inidengan nama ‘’new journalism’’ (jurnalisme
baru). Kritisi menanggapi, ‘’Apa yang
baru?’’Maka pada 1973 Wolfe dan EW Johnson menerbitkan antologi dengan judul The New Journalism. Mereka jadi editor. Mereka
memasukan narasi-narasi terkemuka zaman itu. Antara lain dari Hunter S. Thompson, Joan Didion, Truman Capote,
Jimmy Breslin,dan Wolfe sendiri. Wolfe dan Johnson menulis kata pengantar.
Mereka bilang genre ini berbeda dari sehari-hari karena dalam bertutur mereka
menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), menggunakan sudut
pandang orang ketiga (third person point of view), serta penuh dengan detail.
Wawancara bisa dilakukan dengan
puluhan, bahkan lebih sering ratusan, narasumber. Risetnya tidak main-main.
Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua, tapibisa berbulan-bulan.
Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa. Bukan orang terkenal.
Beberapa pemikir jurnalisme
mengembangkan temuan Wolfe.ada yang pakai nama ‘’passionate journalism’’. Pulitzer Prize menyebutnya ‘’explorative
journalism’’. Apapun nama yang diberikan, genre ini menukik sangat dalam. Lebih
dalam daripada yang disebut sebagai in-depth reporting. Ia bukan saja
melaporkan sesorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang
bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu. Ada karakter ,ada
drama, ada babak,ada adegan, adakonflik. Laporanya panjang dan utuh tidak
pecah-pecah ke dalam beberapa laporan.
Roy Peter Clark, seorang guru
menulis di poynter Institute, Florida, mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekat an baru yang
naratif. 5W 1H adalah singakatan dari
who,what,where,when,whay,dan how. Pada narasi, menurut Clark dalam satu esei
Neiman Reports, who berubah menjadi karakter, what menjadi plot atau alur,
where menjadi setting,when menjadi kronologi,why menjadi motif,dan how menjadi
narasi.
Ada juga yang bilang genre ini
jawaban media cetak terhadap sebuah televisi,radio,dan internet. Hari ini
praktis tak ada orang mendapatkanbreaking news dari surat kabar. Orang
mengandalkan media elektronik. Surat kabar tak bisa bersaing cepat dengan media
elektronik. Namun media elektronik sulit bersaing kedalaman dengan media cetak.
Surat kabar bisa berkembang bila ia menyajikan berita yang dalam dan analitis.
Genre ini makanya disajikan panjang. Majalah The New Yorker pernah menerbitkan
satu laporan hanya dalam satu edisi majalah. Judulnya ‘’Hiroshima’’ karya john
Hersey yang dimuat pada 31 Agustus 1946.
No comments:
Post a Comment