Tuesday, 22 January 2013

EDISI REVISI JURNALISME SASTRAWI:PENGANTAR:part 1



EDISI REVISI
JURNALISME SASTRAWI
 
PENGANTAR
Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita
SEMUA INI BERMULA DARI KEISENGAN BELAKA. Pada Maret 2000, dr satu apartemen kecil di dekat harvard Square, jantung kota Cambrigde, Amerika Serikat saya mengirim sepucuk email kepada dua mailing list yang anggota-anggotanya  kebanyakan orang indonesia :wartawan,seniman,dosen,peneliti,dan sebagainya.
            Isinya satu pertanyaan yang diterangkan dengan agak panjang – lebar. Mengapa di Indonesia tak ada surat kabar di mana orang bisa menulis narasi secara panjang dan utuh? Mengapa jurnalisme sastrawi (literary journalism) tak berkembang di kalangan wartawan,sastrawan,seniman,dan cendikiawan Indonesia?
            Pertanyaan itu muncul sejak semester sebelumnya ketika saya mengikuti mata kuliah non-fiction writing dalam program Nieman Fellowship on Journalism di Universitas Harvard. ‘’Kalau di Amerika Serikat mereka punya majalah Time, Newsweek, dan sejenisnya, kita juga punya Tempo, Gatra, dan lain-lain. Kalau Amerika punya harian The New York Times, The Washington Post, kita juga punya harian sejenis. Tapi mengapa kita ompong di jurnalisme sastrawi?’’
            ‘’Jurnalisme Sastrawi’’ adalah satu dari setidaknya tiga nama buat genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat dimana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukandengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak di baca. Tom Wolfe, wartawan-cum-novelis, pada 1960-an memperkenalkan genre inidengan nama ‘’new journalism’’ (jurnalisme baru). Kritisi  menanggapi, ‘’Apa yang baru?’’Maka pada 1973 Wolfe dan EW Johnson menerbitkan antologi dengan judul  The New Journalism. Mereka jadi editor. Mereka memasukan narasi-narasi terkemuka zaman itu. Antara lain dari Hunter  S. Thompson, Joan Didion, Truman Capote, Jimmy Breslin,dan Wolfe sendiri. Wolfe dan Johnson menulis kata pengantar. Mereka bilang genre ini berbeda dari sehari-hari karena dalam bertutur mereka menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person point of view), serta penuh dengan detail.
            Wawancara bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan lebih sering ratusan, narasumber. Risetnya tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua, tapibisa berbulan-bulan. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa. Bukan orang terkenal.
            Beberapa pemikir jurnalisme mengembangkan temuan Wolfe.ada yang pakai nama ‘’passionate journalism’’.  Pulitzer Prize menyebutnya ‘’explorative journalism’’. Apapun nama yang diberikan, genre ini menukik sangat dalam. Lebih dalam daripada yang disebut sebagai in-depth reporting. Ia bukan saja melaporkan sesorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu. Ada karakter ,ada drama, ada babak,ada adegan, adakonflik. Laporanya panjang dan utuh tidak pecah-pecah ke dalam beberapa laporan.
            Roy Peter Clark, seorang guru menulis di poynter Institute, Florida, mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekat an baru yang naratif. 5W 1H adalah singakatan dari who,what,where,when,whay,dan how. Pada narasi, menurut Clark dalam satu esei Neiman Reports, who berubah menjadi karakter, what menjadi plot atau alur, where menjadi setting,when menjadi kronologi,why menjadi motif,dan how menjadi narasi.
            Ada juga yang bilang genre ini jawaban media cetak terhadap sebuah televisi,radio,dan internet. Hari ini praktis tak ada orang mendapatkanbreaking news dari surat kabar. Orang mengandalkan media elektronik. Surat kabar tak bisa bersaing cepat dengan media elektronik. Namun media elektronik sulit bersaing kedalaman dengan media cetak. Surat kabar bisa berkembang bila ia menyajikan berita yang dalam dan analitis. Genre ini makanya disajikan panjang. Majalah The New Yorker pernah menerbitkan satu laporan hanya dalam satu edisi majalah. Judulnya ‘’Hiroshima’’ karya john Hersey yang dimuat pada 31 Agustus 1946.

No comments:

Post a Comment